LEBAK Objeknews
Kondisi gedung PGRI Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menjadi sorotan. Bangunan yang semestinya menjadi rumah bersama para guru tersebut hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal dan disebut-sebut justru menjadi tempat bersarang kelelawar.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: jika gedung organisasi guru saja terbengkalai, dari mana lagi anggaran akan dicari untuk melanjutkan pembangunannya?
Lebih jauh, muncul pembicaraan mengenai dana pembangunan yang disebut mencapai sekitar Rp1,4 miliar. Angka tersebut perlu dijelaskan secara terbuka agar publik, khususnya para guru, mengetahui sumber dana, mekanisme pengelolaan, jumlah yang telah digunakan, pekerjaan yang sudah selesai, serta sisa anggaran apabila memang masih tersedia.
Sejumlah pihak juga mempertanyakan apakah para guru akan kembali diminta melakukan iuran untuk menyelesaikan pembangunan gedung tersebut.itu semua ada di lingkungan guru sendiri
Pasalnya, apabila benar terdapat pengalaman pengumpulan iuran sebelumnya namun hasil pembangunan tidak kunjung selesai, sangat wajar apabila muncul keengganan dari sebagian guru untuk kembali mengeluarkan uang.
Jangan sampai guru kembali diminta iuran, sementara pertanggungjawaban penggunaan anggaran sebelumnya belum terang,” menjadi salah satu persoalan yang patut dijawab secara terbuka oleh pengurus PGRI yang lama
Bukan Soal Sarang Kelelawar, tetapi Soal Pertanggungjawaban
Gedung yang terbengkalai bukan sekadar persoalan fisik. Di balik bangunan yang tidak termanfaatkan, terdapat pertanyaan mengenai tata kelola organisasi dan penggunaan dana.
Masyarakat tentu berhak mengetahui bagaimana perjalanan anggaran pembangunan tersebut sejak awal hingga kondisi gedung saat ini.belum maksimal
Apabila memang terdapat dugaan bahwa sebagian dana pernah digunakan untuk kepentingan pribadi oleh pengurus lama, hal tersebut harus dibuktikan melalui dokumen, laporan keuangan, pemeriksaan, atau keterangan pihak yang berwenang, bukan hanya berdasarkan rumor.
Karena itu, dugaan tersebut seharusnya menjadi pintu masuk untuk melakukan audit dan penelusuran secara objektif.olehnpihak penegak hukum dan ketua yang baru
Jangan Sampai Iuran Guru Menjadi Solusi Atas Persoalan Lama ,Persoalan utama sekarang bukan sekadar mencari uang baru untuk menyelesaikan gedung.pgri yang mangkrak
Yang lebih penting adalah memastikan ke mana anggaran sebelumnya mengalir dan apa saja yang telah dikerjakan menggunakan dana tersebut.olehnpengurus lama
Jika memang masih terdapat kewajiban pembangunan, harus jelas berapa kebutuhan anggarannya. Jika terdapat kekurangan atau persoalan administrasi, harus dijelaskan penyebabnya. Dan apabila ditemukan penyimpangan, tentu mekanisme pertanggungjawaban harus ditempuh sesuai aturan.
Guru jangan sampai kembali dibebani iuran sebelum persoalan penggunaan dana sebelumnya benar-benar jelas.dan transparansi
Lima Pertanyaan yang Perlu Dijawab oleh kepengurusan yang lama PGRI Cilograng
1. Benarkah total dana pembangunan gedung PGRI Cilograng mencapai sekitar Rp1,4 miliar?
2. Dari mana saja sumber dana tersebut dan bagaimana mekanisme pengumpulannya?
3. Berapa total dana yang sudah digunakan dan untuk pekerjaan apa saja?
4. Apakah masih terdapat saldo atau sisa kewajiban pembangunan?
5. Jika terdapat dugaan penggunaan dana untuk kepentingan pribadi pengurus lama, apakah sudah pernah dilakukan audit atau pemeriksaan independen?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab bukan untuk menyudutkan organisasi, melainkan agar persoalan gedung PGRI Cilograng tidak terus menjadi tanda tanya.
Kini masyarakat menunggu keterbukaan dari pengurus PGRI Cilograng, khususnya terkait laporan keuangan, bukti pengeluaran, progres pembangunan, dan rencana penyelesaian gedung.
Jangan sampai gedung yang dibangun dari semangat dan kontribusi para guru justru terus terbengkalai hingga menjadi “sarang kelelawar”, sementara para guru kembali diminta mengeluarkan iuran.
Publik menunggu: apakah akan ada keterbukaan dan audit, atau justru kembali mencari iuran baru?
Red
